Pemandangan

Pemandangan
Asri dan Segar

Minggu, 01 Januari 2012

KONDISI LAHAN PASANG SURUT


KONDISI LAHAN PASANG SURUT

Lahan pasang surut berbeda dengan lahan irigasi atau lahan kering yang sudah dikenal masyarakat. Perbedaannya menyangkut kesuburan tanah, sumber air tersedia, dan teknik pengelolaannya.

Lahan ini tersedia sangat luas dan dapat dimanfaatkan untuk usaha pertanian. Hasil yang diperoleh sangat tergantung kepada cara pengelolaannya. Untuk itu, petani perlu memahami sifat dan kondisi tanah dan air di lahan pasang surut.

Sifat tanah dan air yang perlu dipahami di lahan pasang surut ini berkaitan dengan:
• Tanah sulfat masam dengan senyawa piritnya
• Tanah gambut
• Air pasang besar dan kecil
• Kedalaman air tanah
• Kemasaman air yang menggenangi lahan.

Pengelolaan tanah dan air ini merupakan kunci keberhasilan usaha tani. Dengan upaya yang sungguh-sungguh, lahan pasang surut ini dapat bermanfaat bagi petani dan masyarakat luas.
Lahan pasang surut merupakan lahan marjinal yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai areal budidaya kelapa sawit. Potensi tersebut didasarkan pada karakteristik lahan maupun luasannya. Meskipun demikian, terkait dengan karakteristik tanah pada lahan pasang surut, pengembangan kelapa sawit di lahan pasang surut dihadapkan pada berbagai tantangan baik dalam pengelolaan lahan, kultur teknis maupun investasi untuk pembangunan infrastruktur. Untuk itu, pengembangan lahan rawa pasang surut memerlukan perencanaan, pengelolaan, dan pemanfaatan yang tepat serta penerapan teknologi yang sesuai, terutama pengelolaan tanah dan air.  Dengan upaya seperti itu diharapkan lahan rawa pasang surut dapat menjadi lahan perkebunan kelapa sawit yang produktif, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan.
            Kajian terhadap karakteristik lahan rawa pasang surut di perkebunan kelapa sawit telah dilakukan melalui pengamatan profil tanah Typic Sulfaquent dan Sulfic Endoaquept di Sumatera Selatan. Perbedaan utama kedua jenis tanah tersebut  adalah kedalaman lapisan pirit. Typic Sulfaquent memiliki lapisan pirit pada kedalaman sekitar 50 cm dari permukaan tanah, sedangkan tanah Sulfic Endoaquepts memiliki kedalaman pirit sekitar 100 cm. Pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit umumnya semakin baik dengan semakin dalamnya posisi lapisan pirit dari permukaan tanah. Secara umum, pertumbuhan tanaman dan produksi kelapa sawit pada lahan rawa pasang surut yang memiliki kandungan pirit juga sangat ditentukan oleh kualitas kultur teknis khususnya pengaturan tata air.  Kondisi tata air yang efektif mampu mengendalikan drainase sesuai kebutuhan tanaman, sekaligus mampu mencegah over drainage yang dapat mengakibatkan oksidasi pirit secara berlebihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar